Puluhan pengunjung dan karyawan salah satu mal di Kota Pekalongan Jawa Tengah jalani rapid tes corona secara acak .
Hal ini dilakukan untuk mengetahui sekaligus memutus penyebaran penyakit covid 19 yang saat ini tengah mewabah.
Sejumlah pegunjung Matahari Mall Pekalongan tak bisa mengelak ketika sejumlah petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan petugas dari Dinas Kesehatan mencegat mereka di pintu masuk untuk menjalani rapid tes.
Tak hanya pengunjung, sejumlah karyawan dari Mall ini juga menjalani tes yang dilaksanakan oleh petugas yang menggunakan alat pelindung diri , apd lengkap ini.
Pelaksanaan rapid tes atau tes cepat guna mengetahui apakah seseorang reaktif atau positif virus corona juga menjaga penjagaan ketat dari sejumlah petugas polisi, TNI dan polisi militer guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan .
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Dari lebih 50 orang yang menjalani tes , semuanya dinyatakan negatif.
Meskipun begitu masyarakat tetap diminta untuk melaksanakan protokol kesehatan selama pandemi ini.
Yakni dengan meakai masker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan.
Rapid tes mendadak ini rencananya juga akan dilaksanakan di sejumlah lokasi lain karena beberapa hari menjelang Idul Fitri ini, di sejumlah pusat perbelanjaan sering terjadi kerumunan warga yang hendak membeli keperluan Idul Fitri.
Rabu, 20 Mei 2020
Penambahan Kasus Cetak Rekor, Kini Total Kasus Positif Corona Mencapai 19.189
Secara nasional, pemerintah mencatat sampai pukul 12.00 Rabu siang (20/5/2020) ada tambahan 693 kasus positif corona di Indonesia.
Juru Bicara Pemerintah Terkait Kasus Corona, Achmad Yurianto menyebut selain tambahan 693 kasus positif corona baru.
Pertambahan ini menjadi yang terbesar, seiring semakin masifnya uji sampel virus corona.
Yuri juga menyampaikan spesimen yang diperiksa sebanyak 211.883 spesimen yang diperiksa PCR dan tes cepat molekuler.
Total pasien positif bertambah hingga hari ini sejumlah 19.189 kasus.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Di pemeriksaan itu kita akan mendapatkan kenaikan pasien konfirmasi covid-19, ada kenaikan sebanyak 693 orang sehingga total kasus 19.189 pasien positif, ucap Achmad Yurianto.
Sedangkan pasien sembuh hingga hari ini bertambah 108 orang sehingga total menjadi 4.575 pasien sembuh.
Pasien sembuh ini meningkat 108 orang menjadi 4.575 orang.
Sedangkan, kasus meninggal naik 21 orang sehingga total pasien meninggal sejumlah 1.242 orang.
Hingga hari ini *(20/5/2020) sudah 391 Kabupaten atau Kota terjangkit penyebaran virus corona.
Juru Bicara Pemerintah Terkait Kasus Corona, Achmad Yurianto menyebut selain tambahan 693 kasus positif corona baru.
Pertambahan ini menjadi yang terbesar, seiring semakin masifnya uji sampel virus corona.
Yuri juga menyampaikan spesimen yang diperiksa sebanyak 211.883 spesimen yang diperiksa PCR dan tes cepat molekuler.
Total pasien positif bertambah hingga hari ini sejumlah 19.189 kasus.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Di pemeriksaan itu kita akan mendapatkan kenaikan pasien konfirmasi covid-19, ada kenaikan sebanyak 693 orang sehingga total kasus 19.189 pasien positif, ucap Achmad Yurianto.
Sedangkan pasien sembuh hingga hari ini bertambah 108 orang sehingga total menjadi 4.575 pasien sembuh.
Pasien sembuh ini meningkat 108 orang menjadi 4.575 orang.
Sedangkan, kasus meninggal naik 21 orang sehingga total pasien meninggal sejumlah 1.242 orang.
Hingga hari ini *(20/5/2020) sudah 391 Kabupaten atau Kota terjangkit penyebaran virus corona.
Selasa, 19 Mei 2020
Curhat Seorang Dokter di Jakarta, Rela Kerja Tanpa Libur demi Pasien karena Kurangnya Tenaga Medis
Seorang dokter yang bertugas di salah satu rumah sakit pemerintah di Jakarta mengungkapkan perjuangannya selama bekerja di tengah pandemi Covid-19.
Keberadaan petugas medis khusus penanganan Covid-19 di sejumlah rumah sakit di Jakarta dikabarkan masih minim.
Padahal pasien Covid-19 di Indonesia dikabarkan terus meningkat.
Hal ini tentunya membuat sejumlah rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 mengalami kewalahan.
Jumlah tenaga kerja yang minim membuat tenaga medis harus bekerja ekstra.
Mereka bekerja siang dan malam tanpa waktu libur.
Perjuangan mereka merawat pasien sangat besar dan patut diapresiasi.
Minimnya tenaga kerja di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta ini diungkapkan oleh dokter berinisial A.
Diungkapkan Dokter A, meski rumah sakit tempatnya bekerja bukanlah rumah sakit rujukan Covid-19, namun jumlah pasien pengidap Covid-19 tetap berdatangan.
Karena itulah, para tenaga medis selain melayani para pasien non-Covid-19 juga harus menangani pasien pengidap Covid-19.
Banyak pasien yang datang ke rumah sakit tanpa gejala.
"Pasien awalnya datang tidak dengan gejala ke arah Covid-19,
tapi setelah didiagnosa informasi lebih lanjut mengarah ke sana (Covid-19) ya kita tangani," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2020).
Ia pun menjelaskan, para pasien penderita Covid-19 tersebut tidak dapat dipindah ke rumah sakit rujukan karena kapasitas rumah sakit telah penuh.
"Kebanyakan rumah sakit rujukan sudah penuh.
Rumah sakit tempat saya bekerja sudah menyediakan fasilitas sarana dan prasarana dalam menangani Covid-19.
Tapi dalam hal sumber daya manusia,
ini sudah sangat minim sekali," imbuhnya.
Kerja tanpa libur
Dokter A menjelaskan bahwa beberapa rumah sakit non-rujukan telah membangun sistem cluster khusus penanganan pasien Covid-19.
Ini dilakukan agar pasien-pasien lain tidak ikut tertular Covid-19.
Namun karena minimnya petugas medis yang bertugas, kata Dokter A, sejumlah rumah sakit di Jakarta telah menetapkan sistem rolling.
Setiap beberapa minggu sekali para petugas medis akan di-rolling untuk menangani para penderita Covid-19.
"Satu orang dokter bisa menangani 10-11 pasien dalam satu hari.
Kurang optimal apalagi dilihat dari jumlah pasien minggu ini yang cenderung terus terutama bertambah," tuturnya.
Setelah masa penugasan tersebut berakhir, para dokter, suster, serta para petugas medis akan diisolasi selama dua minggu.
Minimnya jumlah sumber daya manusia pun memaksa para petugas medis yang sedang menjalani masa isolasi untuk tetap bekerja.
"Kita kerja tidak ada libur.
Dalam masa isolasi dua minggu, kami tetap bekerja," ungkapnya.
Selama masa isolasi, Dokter A mengatakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) telah membantu para petugas medis mendapatkan penginapan khusus yang berlokasi di wilayah dekat rumah sakit.
"Ada penginapan difasilitasi oleh Kemenparekraf, kami biasa dapat penginapan yang tidak jauh dari situ (rumah sakit) biasa dua minggu waktu isolasi," kata Dokter A.
Kendati demikian, Dokter A menyebut bahwa tidak semua rumah sakit di Jakarta telah menerapkan sistem yang serupa.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Beberapa petugas medis di beberapa rumah sakit bahkan dikatakan tidak dapat menangani pasien pengidap Covid-19.
"Tapi tidak semua rumah sakit sama seperti rumah sakit tempat saya bekerja.
Terlebih dari segi fasilitas yang tersedia," pungkasnya.
Keberadaan petugas medis khusus penanganan Covid-19 di sejumlah rumah sakit di Jakarta dikabarkan masih minim.
Padahal pasien Covid-19 di Indonesia dikabarkan terus meningkat.
Hal ini tentunya membuat sejumlah rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 mengalami kewalahan.
Jumlah tenaga kerja yang minim membuat tenaga medis harus bekerja ekstra.
Mereka bekerja siang dan malam tanpa waktu libur.
Perjuangan mereka merawat pasien sangat besar dan patut diapresiasi.
Minimnya tenaga kerja di sebuah rumah sakit pemerintah di Jakarta ini diungkapkan oleh dokter berinisial A.
Diungkapkan Dokter A, meski rumah sakit tempatnya bekerja bukanlah rumah sakit rujukan Covid-19, namun jumlah pasien pengidap Covid-19 tetap berdatangan.
Karena itulah, para tenaga medis selain melayani para pasien non-Covid-19 juga harus menangani pasien pengidap Covid-19.
Banyak pasien yang datang ke rumah sakit tanpa gejala.
"Pasien awalnya datang tidak dengan gejala ke arah Covid-19,
tapi setelah didiagnosa informasi lebih lanjut mengarah ke sana (Covid-19) ya kita tangani," ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2020).
Ia pun menjelaskan, para pasien penderita Covid-19 tersebut tidak dapat dipindah ke rumah sakit rujukan karena kapasitas rumah sakit telah penuh.
"Kebanyakan rumah sakit rujukan sudah penuh.
Rumah sakit tempat saya bekerja sudah menyediakan fasilitas sarana dan prasarana dalam menangani Covid-19.
Tapi dalam hal sumber daya manusia,
ini sudah sangat minim sekali," imbuhnya.
Kerja tanpa libur
Dokter A menjelaskan bahwa beberapa rumah sakit non-rujukan telah membangun sistem cluster khusus penanganan pasien Covid-19.
Ini dilakukan agar pasien-pasien lain tidak ikut tertular Covid-19.
Namun karena minimnya petugas medis yang bertugas, kata Dokter A, sejumlah rumah sakit di Jakarta telah menetapkan sistem rolling.
Setiap beberapa minggu sekali para petugas medis akan di-rolling untuk menangani para penderita Covid-19.
"Satu orang dokter bisa menangani 10-11 pasien dalam satu hari.
Kurang optimal apalagi dilihat dari jumlah pasien minggu ini yang cenderung terus terutama bertambah," tuturnya.
Setelah masa penugasan tersebut berakhir, para dokter, suster, serta para petugas medis akan diisolasi selama dua minggu.
Minimnya jumlah sumber daya manusia pun memaksa para petugas medis yang sedang menjalani masa isolasi untuk tetap bekerja.
"Kita kerja tidak ada libur.
Dalam masa isolasi dua minggu, kami tetap bekerja," ungkapnya.
Selama masa isolasi, Dokter A mengatakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ( Kemenparekraf) telah membantu para petugas medis mendapatkan penginapan khusus yang berlokasi di wilayah dekat rumah sakit.
"Ada penginapan difasilitasi oleh Kemenparekraf, kami biasa dapat penginapan yang tidak jauh dari situ (rumah sakit) biasa dua minggu waktu isolasi," kata Dokter A.
Kendati demikian, Dokter A menyebut bahwa tidak semua rumah sakit di Jakarta telah menerapkan sistem yang serupa.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Beberapa petugas medis di beberapa rumah sakit bahkan dikatakan tidak dapat menangani pasien pengidap Covid-19.
"Tapi tidak semua rumah sakit sama seperti rumah sakit tempat saya bekerja.
Terlebih dari segi fasilitas yang tersedia," pungkasnya.
Senin, 18 Mei 2020
Ilmuwan di China Kembangkan Obat Virus Corona, Diklaim Lebih Evisien dari Vaksin
Para ilmuan di Universitas Peking, China dikabarkan tengah mengembangkan obat yang diyakini cukup kuat untuk menghentikan penyebaran virus corona atau Covid-19.
Melansir Kompas.com, para peneliti menerangkan, obat ini tidak hanya dapat mempersingkat waktu pemulihan pasien, tapi juga bisa menumbuhkan kekebalan jangka pendek.
Sunney Xie direktur pusat Inovasi Genomik Tingkat Lanjut di Beijing mengatakan kepada AFP, bahwa obat ini telah berhasil diuji pada hewan.
Obat ini menggunakan antibodi penawar, yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh manusia untuk mencegah virus menginfeksi sel-sel tubuh.
Tim Xie mengisolasi antibodi tersebut dari 60 pasien yang sembuh dari Covid-19.
Sebuah studi pada penelitian tim yang diterbitkan pada Minggu (17/5/2020) di jurnal ilmiah Cell menunjukkan, penggunaan antibodi memberikan potensi "penyembuhan" untuk penyakit dan mempersingkat waktu pemulihan.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Xie mengatakan obat itu harus siap digunakan akhir tahun ini, dan pada waktunya saat terjadi potensi wabah di musim dingin.
"Perencanaan untuk uji klinis sedang dilakukan," kata Xie sembari menambahkan uji klinis akan dilakukan di Australia dan negara-negara lain dikarenakan kasus-kasus virus corona telah berkurang di China.
"Harapannya antibodi yang dinetralkan ini bisa menjadi obat khusus yang akan menghentikan pandemi," ungkapnya.
China sudah memiliki 5 calon vaksin Covid-19 yang sedang diuji coba ke manusia, kata seorang pejabat kesehatan pekan lalu.
Namun Badan Kesehatan Dunia telah memperingatkan bahwa pengembangan vaksin bisa memakan waktu 12-18 bulan.
Pencegahan dan Penyembuhan
Menggunakan antibodi dalam perawatan obat bukan hal baru, dan telah berhasil dilakukan untuk mengobati beberapa virus lain seperti HIV, Ebola, dan MERS.
Xie mengklaim para penelitinya telah memulai observasi sejak awal ketika wabah virus corona masih di China dan belum menyebar ke negara lain.
Obat Ebola Remdesivir juga telah dipertimbangkan sebagai obat untuk Covid-19.
Uji klinis di Amerika Serikat (AS) menunjukkan obat itu memperpendek waktu pemulihan pada sepertiga pasien, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kematian.
Studi menunjukkan bahwa jika antibodi penetralisir disuntikkan sebelum tikus terinfeksi virus, tikus tersebut tetap bebas dari infeksi dan tidak ada virus yang terdeteksi.
Ini dapat menawarkan perlindungan sementara bagi pekerja medis selama beberapa minggu, dan Xie berharap dapat "memperpanjangnya hingga beberapa bulan."
Lebih dari 100 vaksin Covid-19 sedang dikerjakan di seluruh dunia, tetapi karena proses pengerjaan vaksin lebih panjang, Xie berharap obat baru ini bisa menjadi cara yang lebih cepat dan efisien untuk menghentikan pandemi virus corona.
"Kami akan dapat menghentikan pandemi dengan obat yang efektif, bahkan tanpa vaksin," imbuh Xie.
Melansir Kompas.com, para peneliti menerangkan, obat ini tidak hanya dapat mempersingkat waktu pemulihan pasien, tapi juga bisa menumbuhkan kekebalan jangka pendek.
Sunney Xie direktur pusat Inovasi Genomik Tingkat Lanjut di Beijing mengatakan kepada AFP, bahwa obat ini telah berhasil diuji pada hewan.
Obat ini menggunakan antibodi penawar, yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh manusia untuk mencegah virus menginfeksi sel-sel tubuh.
Tim Xie mengisolasi antibodi tersebut dari 60 pasien yang sembuh dari Covid-19.
Sebuah studi pada penelitian tim yang diterbitkan pada Minggu (17/5/2020) di jurnal ilmiah Cell menunjukkan, penggunaan antibodi memberikan potensi "penyembuhan" untuk penyakit dan mempersingkat waktu pemulihan.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Xie mengatakan obat itu harus siap digunakan akhir tahun ini, dan pada waktunya saat terjadi potensi wabah di musim dingin.
"Perencanaan untuk uji klinis sedang dilakukan," kata Xie sembari menambahkan uji klinis akan dilakukan di Australia dan negara-negara lain dikarenakan kasus-kasus virus corona telah berkurang di China.
"Harapannya antibodi yang dinetralkan ini bisa menjadi obat khusus yang akan menghentikan pandemi," ungkapnya.
China sudah memiliki 5 calon vaksin Covid-19 yang sedang diuji coba ke manusia, kata seorang pejabat kesehatan pekan lalu.
Namun Badan Kesehatan Dunia telah memperingatkan bahwa pengembangan vaksin bisa memakan waktu 12-18 bulan.
Pencegahan dan Penyembuhan
Menggunakan antibodi dalam perawatan obat bukan hal baru, dan telah berhasil dilakukan untuk mengobati beberapa virus lain seperti HIV, Ebola, dan MERS.
Xie mengklaim para penelitinya telah memulai observasi sejak awal ketika wabah virus corona masih di China dan belum menyebar ke negara lain.
Obat Ebola Remdesivir juga telah dipertimbangkan sebagai obat untuk Covid-19.
Uji klinis di Amerika Serikat (AS) menunjukkan obat itu memperpendek waktu pemulihan pada sepertiga pasien, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kematian.
Studi menunjukkan bahwa jika antibodi penetralisir disuntikkan sebelum tikus terinfeksi virus, tikus tersebut tetap bebas dari infeksi dan tidak ada virus yang terdeteksi.
Ini dapat menawarkan perlindungan sementara bagi pekerja medis selama beberapa minggu, dan Xie berharap dapat "memperpanjangnya hingga beberapa bulan."
Lebih dari 100 vaksin Covid-19 sedang dikerjakan di seluruh dunia, tetapi karena proses pengerjaan vaksin lebih panjang, Xie berharap obat baru ini bisa menjadi cara yang lebih cepat dan efisien untuk menghentikan pandemi virus corona.
"Kami akan dapat menghentikan pandemi dengan obat yang efektif, bahkan tanpa vaksin," imbuh Xie.
Minggu, 17 Mei 2020
Brunei Darussalam Tidak Ada Penambahan Kasus Baru Covid-19 dalam 12 Hari Lebih
Brunei Darussalam menandai hari ke-12 tidak ada penambahan kasus baru infeksi Covid-19.
Hari ke-12 ini jatuh pada Selasa (19/5/2020) lalu dan diumumkan pemerintah, sebagaimana dilaporkan The Star.
Sehingga sampai Selasa, jumlah kasus infeksi masih di angka 141.
Menurut pantauan Tribunnews pada situs resmi Kementerian Kesehatan Brunei Darussalam, hingga Rabu (20/5/2020) tidak ada penambahan kasus infeksi baru.
Menteri Kesehatan, Dr Mohd Isham Jaafar menyoroti prestasi Brunei ini pada konferensi pers harian di Departemen Kesehatan pada Selasa, lalu.
Menkes mengaku turut bahagia dengan perkembangan wabah di negara saat ini.
"Alhamdulillah, dengan rahmat Allah SWT, tidak ada kasus baru infeksi Covid-19 di negara ini."
Jumlah total kasus Covid-19 di Brunei Darussalam tetap mencapai 141," kata Jaafar.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Sementara itu, jumlah pasien sembuh juga belum bertambah.
Hingga Kamis (21/5/2020), Worldometers masih mencatat 136 pasien Covid-19 yang sembuh di negara itu.
Hari ke-12 ini jatuh pada Selasa (19/5/2020) lalu dan diumumkan pemerintah, sebagaimana dilaporkan The Star.
Sehingga sampai Selasa, jumlah kasus infeksi masih di angka 141.
Menurut pantauan Tribunnews pada situs resmi Kementerian Kesehatan Brunei Darussalam, hingga Rabu (20/5/2020) tidak ada penambahan kasus infeksi baru.
Menteri Kesehatan, Dr Mohd Isham Jaafar menyoroti prestasi Brunei ini pada konferensi pers harian di Departemen Kesehatan pada Selasa, lalu.
Menkes mengaku turut bahagia dengan perkembangan wabah di negara saat ini.
"Alhamdulillah, dengan rahmat Allah SWT, tidak ada kasus baru infeksi Covid-19 di negara ini."
Jumlah total kasus Covid-19 di Brunei Darussalam tetap mencapai 141," kata Jaafar.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Sementara itu, jumlah pasien sembuh juga belum bertambah.
Hingga Kamis (21/5/2020), Worldometers masih mencatat 136 pasien Covid-19 yang sembuh di negara itu.
Pusat Isolasi Nasional mencatat ada empat total kasus aktif saat ini.
Adapun dua pasien di antaranya dalam perawatan intensif.
Satu di antaranya membutuhkan pertolongan untuk jantung menggunakan EMCO dan bantuan pernapasan.
Sementara yang satunya lagi hanya membutuhkan bantuan pernapasan.
Sisanya dalam kondisi stabil.
Menteri Kesehatan mengatakan ada 97 orang yang sedang menjalani karantina.
Isolasi demi memutus rantai penyebaran Covid-19 ini tertuang dalam Undang-Undang Penyakit Menular (Bab 204).
Sejauh ini sudah ada 2.582 warga Brunei yang menyelesaikan karantinanya.
Selama 24 jam terakhir, ada 222 sampel diuji untuk virus SARS-CoV-2.
Negeri Petro Dolar ini, telah melakukan tes Covid-19 sebanyak 17.636.
Tes ini terhitung dilakukan sejak Januari hingga Mei 2020.
Bruhealth merupakan sebuah aplikasi kesehatan yang diluncurkan pemerintah Brunei.
Meski kondisi terbilang sudah terkendali, pemerintah tetap menghimbau bisnis yang melibatkan interaksi untuk mematuhi anjuran kesehatan.
Bisnis yang dimaksudkan adalah potong rambut, perawatan wajah, dan pijat.
Selain rajin membersihkan dan memakai masker serta sarung tangan, para pegiat bisnis diharuskan memberi jarak satu meter per-kursi pelanggan.
Bagi pelanggar aturan ini akan dikenakan denda sesuai undang-undang penyakit menular di negara ini.
Sabtu, 16 Mei 2020
Terjadi di Korea, Gara-gara Sekolah Dibuka Lagi, Ada Siswa Diyatakan Positif Corona
Penemuan kasus virus corona baru pada dua siswa, merusak pembukaan kembali sekolah-sekolah di Korea Selatan pada Rabu (20/5/2020).
Kondisi ini memaksa 75 sekolah menengah memulangkan siswa di tengah kekhawatiran ketidakamanan untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar.
Melansir Reuters, Kementerian Pendidikan Kore Selatan mengatakan, siswa langsung dipulangkan begitu mereka berjalan melewati gerbang sekolah untuk pertama kalinya pada tahun ini, setelah dua pelajar sekolah menengah dinyatakan positif virus corona di Incheon, Rabu (20/5/2020).
Awal semester musim semi telah mengalami penundaan beberapa kali sejak Maret, ketika Korea Selatan harus melawan wabah besar virus corona pertama di luar China, dengan kegiatan belajar mengajar berlangsung secara online lantaran sekolah-sekolah tutup.
Tetapi, dengan kasus harian virus corona turun tajam sejak puncak pada Februari lalu, sebanyak 2.356 sekolah menengah Korea Selatan buka kembali di bawah protokol kesehatan baru untuk mencegah penyebaran penyakit Covid-19.
Semua sekolah akan buka kembali secara bertahap antara 20 Mei dan 1 Juni.
Para guru dengan termometer dan sanitiser tangan menyambut siswa sekolah menengah atas di gerbang sekolah, memeriksa setiap pelajar untuk tanda-tanda demam.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Beberapa siswa berusia 17-18 tahun merangkul bahu temannya saat mereka dipersatukan kembali.
Para guru memberi tahu mereka agar menjaga jarak. Kontraktor sanitasi swasta dengan sepeda motor bolak-balik menyemprotkan desinfektan ke area sekolah.
Di bawah aturan kesehatan yang baru, siswa dan guru harus mengenakan masker kecuali pada waktu makan dan membersihkan meja mereka, yang akan berjarak satu meter satu sama lain.
Namun beberapa guru tidak senang dengan pengaturan tersebut.
Seorang guru mengatakan kepada Reuters dengan syarat anonim, aturan tertentu seperti menetapkan waktu bagi siswa untuk menggunakan kamar mandi, "praktis mustahil untuk diterapkan".
"Saya merasa seperti membawa bom waktu," kata guru sekolah menengah di Provinsi Gyeonggi itu.
Kementerian Pendidikan Korea Selatan juga melakukan pemeriksaan, apakah guru atau siswa mengalami demam menggunakan sistem diagnostik mandiri online. Siapa pun dengan suhu di atas 37,5 derajat Celcius diharuskan tinggal di rumah.
Jika ada siswa yang dinyatakan positif terkena virus corona, maka seluruh sekolah akan beralih ke kelas online setidaknya selama dua minggu. Korea Selatan sejauh ini melaporkan 11.110 kasus virus corona, dengan 263 kematian.
Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan
Kondisi ini memaksa 75 sekolah menengah memulangkan siswa di tengah kekhawatiran ketidakamanan untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar.
Melansir Reuters, Kementerian Pendidikan Kore Selatan mengatakan, siswa langsung dipulangkan begitu mereka berjalan melewati gerbang sekolah untuk pertama kalinya pada tahun ini, setelah dua pelajar sekolah menengah dinyatakan positif virus corona di Incheon, Rabu (20/5/2020).
Awal semester musim semi telah mengalami penundaan beberapa kali sejak Maret, ketika Korea Selatan harus melawan wabah besar virus corona pertama di luar China, dengan kegiatan belajar mengajar berlangsung secara online lantaran sekolah-sekolah tutup.
Tetapi, dengan kasus harian virus corona turun tajam sejak puncak pada Februari lalu, sebanyak 2.356 sekolah menengah Korea Selatan buka kembali di bawah protokol kesehatan baru untuk mencegah penyebaran penyakit Covid-19.
Semua sekolah akan buka kembali secara bertahap antara 20 Mei dan 1 Juni.
Para guru dengan termometer dan sanitiser tangan menyambut siswa sekolah menengah atas di gerbang sekolah, memeriksa setiap pelajar untuk tanda-tanda demam.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Beberapa siswa berusia 17-18 tahun merangkul bahu temannya saat mereka dipersatukan kembali.
Para guru memberi tahu mereka agar menjaga jarak. Kontraktor sanitasi swasta dengan sepeda motor bolak-balik menyemprotkan desinfektan ke area sekolah.
Di bawah aturan kesehatan yang baru, siswa dan guru harus mengenakan masker kecuali pada waktu makan dan membersihkan meja mereka, yang akan berjarak satu meter satu sama lain.
Namun beberapa guru tidak senang dengan pengaturan tersebut.
Seorang guru mengatakan kepada Reuters dengan syarat anonim, aturan tertentu seperti menetapkan waktu bagi siswa untuk menggunakan kamar mandi, "praktis mustahil untuk diterapkan".
"Saya merasa seperti membawa bom waktu," kata guru sekolah menengah di Provinsi Gyeonggi itu.
Kementerian Pendidikan Korea Selatan juga melakukan pemeriksaan, apakah guru atau siswa mengalami demam menggunakan sistem diagnostik mandiri online. Siapa pun dengan suhu di atas 37,5 derajat Celcius diharuskan tinggal di rumah.
Jika ada siswa yang dinyatakan positif terkena virus corona, maka seluruh sekolah akan beralih ke kelas online setidaknya selama dua minggu. Korea Selatan sejauh ini melaporkan 11.110 kasus virus corona, dengan 263 kematian.
Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan
Rabu, 06 Mei 2020
Ada Penambahan 6 Kasus Positif Covid-19 di Yogyakarta
Ada penambahan 6 kasus positif Covid-19 di wilayah DIY yang diumumkan pada 5 Mei 2020 ini.
Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 DIY Berty Murtiningsih menjelaskan riwayat 6 kasus terkonfimasi positif tersebut didapatkan dari hasil tracing Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pada kasus yang merupakan bagian dari kluster Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) di Kota Yogyakarta.

"Jadi dimulai dari Jemaat sebuah Gereja di Kota Yogyakarta yang mengikuti acara di Bogor. Lalu juga mengikuti acara di Ungaran. Belakangan ada Jemaat yang terkonfirmasi positif," urainya, Selasa (5/5/2020).
Baca juga : Mencegah Corona
Berty menambahkan, adanya 6 tambahan kasus tersebut membuat jumlah kasus positif Covid-19 di DIY hingga 5 Mei 2020 menjadi 121 kasus.
Keenam kasus tersebut adalah kasus 118 yakni laki-laki usia 53 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 119 adalah perempuan usia 12 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 120 yakni perempuan usia 54 tahun warga Kota Yogyakarta.

Selanjutnya, kasus 121 yakni perempuan usia 63 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 122 yakni laki-laki usia 44 tahun warga Kota Yogyakarta, dan kasus 123 yakni perempuan usia 63 tahun warga Kota Yogyakarta.
"Swab dilakukan setelah tracing dan dilaksanakan di salah satu RS. Kebetulan hasil laboratorium keluar pada hari ini. Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan hasil lab bukan hanya sekali diambil," urainya.
Laporan konfirmasi kasus Covid-19 di DIY per 5 Mei 2020 adalah total PDP sebanyak 971 orang di mana 148 orang masih menjalani perawatan.
Berdasarkan hasil lab, 121 orang dinyatakan positif (52 orang sembuh, 7 orang meninggal dunia), 727 orang dinyatakan negatif, dan masih menunggu hasil lab sebanyak 123 orang (5 orang meninggal dunia).
Sementara itu, total ODP yang tersebar di seluruh DIY yakni 5.093 orang.
sumber tribunnews
Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 DIY Berty Murtiningsih menjelaskan riwayat 6 kasus terkonfimasi positif tersebut didapatkan dari hasil tracing Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta pada kasus yang merupakan bagian dari kluster Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) di Kota Yogyakarta.

"Jadi dimulai dari Jemaat sebuah Gereja di Kota Yogyakarta yang mengikuti acara di Bogor. Lalu juga mengikuti acara di Ungaran. Belakangan ada Jemaat yang terkonfirmasi positif," urainya, Selasa (5/5/2020).
Baca juga : Mencegah Corona
Berty menambahkan, adanya 6 tambahan kasus tersebut membuat jumlah kasus positif Covid-19 di DIY hingga 5 Mei 2020 menjadi 121 kasus.
Keenam kasus tersebut adalah kasus 118 yakni laki-laki usia 53 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 119 adalah perempuan usia 12 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 120 yakni perempuan usia 54 tahun warga Kota Yogyakarta.

Selanjutnya, kasus 121 yakni perempuan usia 63 tahun warga Kota Yogyakarta, kasus 122 yakni laki-laki usia 44 tahun warga Kota Yogyakarta, dan kasus 123 yakni perempuan usia 63 tahun warga Kota Yogyakarta.
"Swab dilakukan setelah tracing dan dilaksanakan di salah satu RS. Kebetulan hasil laboratorium keluar pada hari ini. Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan hasil lab bukan hanya sekali diambil," urainya.
Laporan konfirmasi kasus Covid-19 di DIY per 5 Mei 2020 adalah total PDP sebanyak 971 orang di mana 148 orang masih menjalani perawatan.
Berdasarkan hasil lab, 121 orang dinyatakan positif (52 orang sembuh, 7 orang meninggal dunia), 727 orang dinyatakan negatif, dan masih menunggu hasil lab sebanyak 123 orang (5 orang meninggal dunia).
Sementara itu, total ODP yang tersebar di seluruh DIY yakni 5.093 orang.
sumber tribunnews
Ada Temuan Baru di Perancis, WHO Desak Semua Negara Selidiki Ulang Kasus Awal Covid-19
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak negara-negara di dunia untuk menyelidiki kasus awal kemunculan virus corona (Covid-19) negara masing-masing.
Desakan ini muncul setelah Perancis melaporkan Covid-19 telah muncul lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni pada bulan Desember 2019, tepatnya 27 Desember di Perancis.
Penyakit ini kemudian diidentifikasi sebagai Covid-19 pertama kali dilaporkan oleh otoritas China ke WHO pada tanggal 31 Desember.

"Ini memberikan gambaran baru tentang segala sesuatu soal isu ini," ujar juru bicara WHO Christian Lindmeier, dalam briefing PBB di Jenewa, mengacu pada laporan Perancis.
Baca juga : Mencegah Corona
"Temuan membantu untuk lebih memahami potensi penyebaran virus corona," tambahnya.
Karena itu Lindmeier mendesak negara-negara lain untuk memeriksa catatan untuk kasus pneumonia pada akhir 2019.

"Karena ini akan memberikan gambaran baru dan lebih jelas mengenai wabah," jelasnya.
Satu rumah sakit Perancis yang melakukan uji ulang sampel lama dari pasien pneumonia menemukan bahwa sudah merawat seorang pria yang telah terinfeksi Covid-19 pada 27 Desember, hampir sebulan sebelum pemerintah Perancis mengkonfirmasi kasus pertama.
Sebelumnya dilaporkan, kasus pertama di Perancis punya riwayat perjalanan dari Kota Wuhan, China pada Desember tahun lalu.

Namun, temuan baru 'pasien perdana' Perancis ini adalah seorang nelayan, tidak memiliki hubungan langsung ke China atau sejarah perjalanan kesana.
sumber tribunews
Desakan ini muncul setelah Perancis melaporkan Covid-19 telah muncul lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya, yakni pada bulan Desember 2019, tepatnya 27 Desember di Perancis.
Penyakit ini kemudian diidentifikasi sebagai Covid-19 pertama kali dilaporkan oleh otoritas China ke WHO pada tanggal 31 Desember.

"Ini memberikan gambaran baru tentang segala sesuatu soal isu ini," ujar juru bicara WHO Christian Lindmeier, dalam briefing PBB di Jenewa, mengacu pada laporan Perancis.
Baca juga : Mencegah Corona
"Temuan membantu untuk lebih memahami potensi penyebaran virus corona," tambahnya.
Karena itu Lindmeier mendesak negara-negara lain untuk memeriksa catatan untuk kasus pneumonia pada akhir 2019.

"Karena ini akan memberikan gambaran baru dan lebih jelas mengenai wabah," jelasnya.
Satu rumah sakit Perancis yang melakukan uji ulang sampel lama dari pasien pneumonia menemukan bahwa sudah merawat seorang pria yang telah terinfeksi Covid-19 pada 27 Desember, hampir sebulan sebelum pemerintah Perancis mengkonfirmasi kasus pertama.
Sebelumnya dilaporkan, kasus pertama di Perancis punya riwayat perjalanan dari Kota Wuhan, China pada Desember tahun lalu.

Namun, temuan baru 'pasien perdana' Perancis ini adalah seorang nelayan, tidak memiliki hubungan langsung ke China atau sejarah perjalanan kesana.
sumber tribunews
Di Tengah Pandemi Covid-19, Bea Cukai Sumbagbar Amankan Jutaan Batang Rokok Ilegal
Sebagai gerbang pintu masuk pulau Sumatera, menjadi tantangan tersendiri bagi Bea Cukai Sumatera Bagian Barat (Sumbagbar) untuk gencar mengawasi peredaran barang ilegal di tengah pandemi Covid-19 yang juga bertepatan dengan bulan Ramadhan. Bea Cukai Sumatera Bagian Barat (Sumbagbar) tidak menurunkan kewaspadaan terhadap peredaran barang ilegal.
Pada Kamis (23/04) dan Senin (27/04) lalu, Bea Cukai Sumbagbar berhasil menyita lebih dari dua juta batang rokok ilegal tanpa dilekati pita cukai.
Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Sumbagbar, Kunto Prasti Trenggono menyampaikan bahwa adanya informasi terkait sebuah truk yang mengangkut rokok ilegal yang akan masuk ke wilayah Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni. Atas informasi tersebut, petugas langsung melakukan pengawasan berupa patroli darat di Jalan Lintas Sumatera, Bakauheni, Lampung selatan dengan tetap menggunakan masker dan sarung tangan untuk menghindari penyebaran virus Covid-19. Petugas kemudian menemukan sebuah truk colt diesel yang diduga mengangkut rokok ilegal dan langsung dilakukan pemeriksaan.
Baca juga : Mencegah Corona
“Hasil pemeriksaan terhadap sebuah truk tujuan Muara Bungo, Jambi, didapati sebanyak 151 karton berisi 1.812.000 batang rokok ilegal yang tidak dilekati pita cukai,” ungkap Kunto.
Ia menambahkan, total perkiraan nilai barang sebesar Rp1.848.240.000. “Barang bukti berupa rokok ilegal, sarana pengangkut dan pengemudi langsung diamankan menuju kantor kami untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” sambung Kunto. Dari penindakan ini, Bea Cukai Sumbagbar berhasil mencegah kerugian negara sebesar Rp1,1 miliar.
Semakin gencar dalam kegiatan pengawasannya, pada hari Senin (27/04), Bea Cukai Sumbagbar kembali berhasil mengamankan jutaan batang rokok ilegal tanpa dilekati pita cukai di wilayah Lampung Selatan.

Jutaan batang rokok ilegal ini merupakan hasil dua penindakan sekaligus yang dilakukan tim Bea Cukai Sumbagbar terhadap sarana pengangkut berupa truk dan bus yang melintasi Jalan Lintas Sumatera, Bakauheni, Lampung Selatan.
Kunto menjelaskan bahwa setelah mendapati informasi terkait adanya truk dan bus yang mengangkut rokok ilegal yang akan melintas di Jalan Lintas Sumatera, petugasnya langsung melakukan patroli darat hingga berhasil menemukan sebuah truk.
“Hasil pemeriksaan terhadap truk kedapatan sebanyak 150 koli berisi 1,9 juta batang rokok yang tidak dilekati pita cukai,” ungkapnya.

Pada hari yang sama, petugas kembali melakukan pencarian dan penyisiran terhadap bus yang diduga mengangkut rokok ilegal. Selang beberapa saat, petugas berhasil menemukan sebuah bus tersebut di Jalan Trans Sumatera, Lampung.
“Pemeriksaan langsung dilakukan oleh petugas dan hasilnya didapati sebanyak 23 koli karton berisi 380 ribu batang rokok yang juga tidak dilekati pita cukai,” tambah Kunto.
Dari penindakan ini, Bea Cukai Sumbagbar berhasil mencegah kerugian negara sebesar Rp1,4 miliar. Terhadap barang bukti, sarana pengangkut dan pengemudi langsung dibawa ke Kantor Wilayah Sumatera Bagian Barat untuk diperiksa lebih lanjut.
“Penindakan ini juga merupakan komitmen nyata Bea Cukai dalam upaya memberantas peredaran barang ilegal untuk mencegah kerugian negara yang timbul akibat peredarannya,” pungkas Kunto.
sumber : tribunnews
Pada Kamis (23/04) dan Senin (27/04) lalu, Bea Cukai Sumbagbar berhasil menyita lebih dari dua juta batang rokok ilegal tanpa dilekati pita cukai.
Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Sumbagbar, Kunto Prasti Trenggono menyampaikan bahwa adanya informasi terkait sebuah truk yang mengangkut rokok ilegal yang akan masuk ke wilayah Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni. Atas informasi tersebut, petugas langsung melakukan pengawasan berupa patroli darat di Jalan Lintas Sumatera, Bakauheni, Lampung selatan dengan tetap menggunakan masker dan sarung tangan untuk menghindari penyebaran virus Covid-19. Petugas kemudian menemukan sebuah truk colt diesel yang diduga mengangkut rokok ilegal dan langsung dilakukan pemeriksaan.
Baca juga : Mencegah Corona
“Hasil pemeriksaan terhadap sebuah truk tujuan Muara Bungo, Jambi, didapati sebanyak 151 karton berisi 1.812.000 batang rokok ilegal yang tidak dilekati pita cukai,” ungkap Kunto.
Ia menambahkan, total perkiraan nilai barang sebesar Rp1.848.240.000. “Barang bukti berupa rokok ilegal, sarana pengangkut dan pengemudi langsung diamankan menuju kantor kami untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” sambung Kunto. Dari penindakan ini, Bea Cukai Sumbagbar berhasil mencegah kerugian negara sebesar Rp1,1 miliar.
Semakin gencar dalam kegiatan pengawasannya, pada hari Senin (27/04), Bea Cukai Sumbagbar kembali berhasil mengamankan jutaan batang rokok ilegal tanpa dilekati pita cukai di wilayah Lampung Selatan.

Jutaan batang rokok ilegal ini merupakan hasil dua penindakan sekaligus yang dilakukan tim Bea Cukai Sumbagbar terhadap sarana pengangkut berupa truk dan bus yang melintasi Jalan Lintas Sumatera, Bakauheni, Lampung Selatan.
Kunto menjelaskan bahwa setelah mendapati informasi terkait adanya truk dan bus yang mengangkut rokok ilegal yang akan melintas di Jalan Lintas Sumatera, petugasnya langsung melakukan patroli darat hingga berhasil menemukan sebuah truk.
“Hasil pemeriksaan terhadap truk kedapatan sebanyak 150 koli berisi 1,9 juta batang rokok yang tidak dilekati pita cukai,” ungkapnya.
Pada hari yang sama, petugas kembali melakukan pencarian dan penyisiran terhadap bus yang diduga mengangkut rokok ilegal. Selang beberapa saat, petugas berhasil menemukan sebuah bus tersebut di Jalan Trans Sumatera, Lampung.
“Pemeriksaan langsung dilakukan oleh petugas dan hasilnya didapati sebanyak 23 koli karton berisi 380 ribu batang rokok yang juga tidak dilekati pita cukai,” tambah Kunto.
Dari penindakan ini, Bea Cukai Sumbagbar berhasil mencegah kerugian negara sebesar Rp1,4 miliar. Terhadap barang bukti, sarana pengangkut dan pengemudi langsung dibawa ke Kantor Wilayah Sumatera Bagian Barat untuk diperiksa lebih lanjut.
“Penindakan ini juga merupakan komitmen nyata Bea Cukai dalam upaya memberantas peredaran barang ilegal untuk mencegah kerugian negara yang timbul akibat peredarannya,” pungkas Kunto.
sumber : tribunnews
Selasa, 05 Mei 2020
Pemerintah Tak Larang Beli Baju Lebaran, Asalkan Protokol Kesehatan Tetap Diterapkan
Pemerintah menyatakan tradisi-tradisi dalam menyambut perayaan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi virus corona (Covid-19) tetap dapat dilakukan.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyebut tidak ada larangan untuk masyarakat yang ingin membeli baju baru untuk lebaran.
Namun dengan syarat aktivitas belanja itu harus dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.
Pernyataan ini disampaikan Yuri dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (22/5/2020) sore.
"Tak ada larangan beli baju baru dan ke pasar, namun tetap dengan etika protokol kesehatan."
Baca juga : Cara Mencegah Corona
"Yakni dengan menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabun adalah cara yang paling bijak dalam kaitan ini," tegas Yuri yang dikutip dari YouTube BNPB Indonesia.
Lebih lanjut Yuri menyebut tradisi dalam menyiapkan perayaan Idul Fitri seperti bersilaturahmi dan menggunakan baju baru merupakan hal yang positif.
"Saudara-saudara kami memaklumi bahwa ada tradisi yang sudah kita laksanakan bertahun-tahun menjelang Idul Fitri."
"Tradisi untuk bisa bersilaturahim dengan saudara, kerabat, keluarga."
"Tradisi untuk menyiapkan perayaan kemenangan di Idul Fitri dengan menggunakan baju yang baru dan menyajikan makanan terbaik, itu adalah sesuatu yang positif," kata Yuri yang dikutip dari YouTube BNPB Indonesia.
Akan tetapi di tengah pandemi seperti saat ini, ia menekankan masyarakat harus dapat menyiasati kegiatan tersebut agar tetap aman dan tidak memperbesar risiko penularan virus tersebut.
"Namun, dengan keadaan yang seperti sekarang ini, semestinya itu bisa kita lakukan dengan menyiasati untuk tetap aman dari kemungkinan tertular Covid-19," tegasnya.
Lebih lanjut Yuri mendorong seluruh masyarakat untuk memiliki kesadaran dalam melaksanakan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
"Oleh karena itu, mari kita lindungi keluarga kita dengan membiasakan menerapkan protokol kesehatan di dalam aspek kehidupan," kata Yuri.
Yuri berujar, apabila ini menjadi budaya baru yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka dapat diyakini keseluruhan bangsa ini bisa diselamatkan dari Covid-19.
"Arahan dari presiden sudah tegas bahwa kita harus fokus pada upaya-upaya untuk memutus rantai penularan Covid-19."
"Secara bersama-sama dan terkoordinasi yang baik, mulai dari keluarga, RT, RW, desa, kelurahan, nagari sampai tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional," ungkapnya.
Pemerintah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 1441 H Jatuh Pada Minggu 24 Mei 2020
Adapun penetapan ini sesuai dengan hasil Sidang Isbat yang digelar Kemenag yang diumumkan melalui telekonferensi pers, Jumat (22/5/2020) malam.
Penetapan 1 Syawal 1441 H yang digelar secara tertutup ini dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Fachrul Razi.
Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menyebut tidak ada larangan untuk masyarakat yang ingin membeli baju baru untuk lebaran.
Namun dengan syarat aktivitas belanja itu harus dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.
Pernyataan ini disampaikan Yuri dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (22/5/2020) sore.
"Tak ada larangan beli baju baru dan ke pasar, namun tetap dengan etika protokol kesehatan."
Baca juga : Cara Mencegah Corona
"Yakni dengan menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan dengan sabun adalah cara yang paling bijak dalam kaitan ini," tegas Yuri yang dikutip dari YouTube BNPB Indonesia.
Lebih lanjut Yuri menyebut tradisi dalam menyiapkan perayaan Idul Fitri seperti bersilaturahmi dan menggunakan baju baru merupakan hal yang positif.
"Saudara-saudara kami memaklumi bahwa ada tradisi yang sudah kita laksanakan bertahun-tahun menjelang Idul Fitri."
"Tradisi untuk bisa bersilaturahim dengan saudara, kerabat, keluarga."
"Tradisi untuk menyiapkan perayaan kemenangan di Idul Fitri dengan menggunakan baju yang baru dan menyajikan makanan terbaik, itu adalah sesuatu yang positif," kata Yuri yang dikutip dari YouTube BNPB Indonesia.
Akan tetapi di tengah pandemi seperti saat ini, ia menekankan masyarakat harus dapat menyiasati kegiatan tersebut agar tetap aman dan tidak memperbesar risiko penularan virus tersebut.
"Namun, dengan keadaan yang seperti sekarang ini, semestinya itu bisa kita lakukan dengan menyiasati untuk tetap aman dari kemungkinan tertular Covid-19," tegasnya.
Lebih lanjut Yuri mendorong seluruh masyarakat untuk memiliki kesadaran dalam melaksanakan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
"Oleh karena itu, mari kita lindungi keluarga kita dengan membiasakan menerapkan protokol kesehatan di dalam aspek kehidupan," kata Yuri.
Yuri berujar, apabila ini menjadi budaya baru yang dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka dapat diyakini keseluruhan bangsa ini bisa diselamatkan dari Covid-19.
"Arahan dari presiden sudah tegas bahwa kita harus fokus pada upaya-upaya untuk memutus rantai penularan Covid-19."
"Secara bersama-sama dan terkoordinasi yang baik, mulai dari keluarga, RT, RW, desa, kelurahan, nagari sampai tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional," ungkapnya.
Pemerintah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 1441 H Jatuh Pada Minggu 24 Mei 2020
Adapun penetapan ini sesuai dengan hasil Sidang Isbat yang digelar Kemenag yang diumumkan melalui telekonferensi pers, Jumat (22/5/2020) malam.
Penetapan 1 Syawal 1441 H yang digelar secara tertutup ini dipimpin langsung oleh Menteri Agama, Fachrul Razi.
Senin, 04 Mei 2020
Mengapa Warga Nekat Berkerumun di Pasar dan Mal Padahal Sedang Corona? Ini Penjelasan Ahli
Sejumlah daerah di Indonesia telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB dalam rangka menekan penyebaran virus corona atau Covid-19.
Namun, belum lama ini pasar dan pusat perbelanjaan ramai dipenuhi masyarakat.
adanya kerumunan warga membuat protokol Covid-19 yang harusnya diterapkan jadi terabaikan.
Teranyar dan menjadi hangat di kalangan media sosial adalah penuhnya Pasar Tanah Abang di tengah Pemprov DKI masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Begitu pula di pusat perbelanjaan Roxy Mall, Jember, Jawa Timur, yang sempat ramai dengan pengunjung.
Padahal, hingga kini seluruh wilayah di Jawa Timur menetapkan ketentuan menjaga jarak atau physical distancing.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Kasus lainnya terjadi di Mall CBD Ciledug, di tengah Kota Tangerang masih melakukan penerapan PSBB untuk menekan penyebaran Covid-19.
Akhirnya, Pemerintah Kota Tangerang menutup sementara operasional Mall CBD Ciledug.
Padahal jumlah kasus di Indonesia sudah mencapai 20.796 per 22 Mei 2020, dengan 5.057 orang diyatakan sembuh dan 1.326 orang meninggal dunia.
Berdasarkan artikel kolom yang ditulis oleh Sandi Kartasasmita, M.Psi, Psikoterapis, psikolog, dosen tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap Covid-19 adalah hal biasa dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Pola pikir untuk menjaga kesehatan dan berobat yang minim menjadi salah satu penyebabnya.
Sebagian besar masyarakat masih menganggap penyakit ini masih jauh, tidak perlu ditakutkan.
Mereka juga berpikir bahwa ini semua akan berlalu meski belum tahu kapan, memiliki Tuhan yang pasti senantiasa akan melindungi sehingga tidak akan terkena penyakit tersebut.
Kalaupun akhirnya kena, karena itu sudah kehendak Tuhan.
Dalam Psikologi Kesehatan dikenal istilah Health Belief Model (HBM), pendekatan yang dapat memberikan gambaran mengapa seseorang mau atau enggan pergi menemui tenaga kesehatan.
Kondisi yang dapat membuat mau mencari atau tidak mencari adalah "persepsi".
Dalam kondisi penyebaran Covid-19 ini, pada awalnya masyarakat masih banyak yang merasa bahwa penyakit ini masih jauh dan tidak dekat dengan tempat tinggalnya.
Ini disebut dengan perceive susceptibility atau kerentanan apa yang dirasakan/diketahui.
Kemudian ada perceive severity, yakni bahaya atau keparahan penyakit yang dialami.
Masyarakat juga memiliki pemikiran bahwa ini adalah penyakit seperti influenza atau yang dikenal dengan sakit pilek, yang umumnya terjadi di Indonesia.
Selain itu, ada perceive benefit of action, apa manfaat yang akan didapatkan dari tindakan yang dilakukan.
Dalam masa PSBB, di mana harus bekerja, belajar, bahkan beribadah di rumah ternyata tak bisa diikuti oleh sebagian orang.
Saat pemerintah mengumumkan untuk di rumah saja, maka yang dipikirkan adalah:
kalau tidak keluar rumah, tidak bekerja, maka bagaimana dapat uang? Apabila tidak ada uang, bagaimana dapat makan? Kalau tidak makan, maka akan kelaparan.
Jadi, imbauan untuk berdiam di rumah, apabila tidak ditunjang kebijakan lain yang menyertai, akan sulit untuk diikuti oleh masyarakat karena keuntungan yang akan diperoleh tidak terlihat.
Ada pula yang disebut dengan perceive barrier to action, hambatan dari tindakan yang akan dilakukan.
Hambatan-hambatan yang dapat muncul didasari beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, tempat tinggal, penilaian mengenai diri sendiri, apakah sanggup atau tidak sanggup mengatasi penyakit tersebut, ataupun keyakinan bahwa tidak akan terkena penyakit tersebut karena berbagai faktor penguat keyakinan tersebut.
Terakhir adalah cues to action, isyarat untuk melakukan tindakan.
Pada akhirnya tindakan apa yang akan diambil dan dilakukan terhadap penyakit Covid-19?
Apakah akan memeriksakan diri saat gejala muncul?
Adanya instruksi pemerintah dengan cara melakukan social disctancing bila harus keluar rumah, berdiam di rumah, semua adalah pilihan perilaku yang akan diambil.
"Saat keyakinan tidak akan terkena penyakit dan berpikir tidak mungkin terkena, tanpa disadari kita sudah masuk ke dalam kondisi optimistic bias. Kondisi ini adalah kondisi yang meyakini bahwa diri sendiri tidak akan terkena hal-hal yang negatif atau buruk," tulis Sandi.
Oleh karena itu, apabila meninjau kondisi saat ini, maka ada baiknya bila diberikan informasi mengenai keuntungan-keuntungan apa yang akan didapatkan bila melakukan tindakan-tindakan yang dianjurkan pemerintah, dan kerugian apa yang akan diderita apabila tidak menjalankannya.
19 Terdapat beberapa keuntungan dengan berdiam diri di rumah.
Pertama, menjadi salah satu orang yang berjasa untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit ini.
Kedua, waktu kerja yang fleksibel.
Saat bekerja di rumah, tentunya dapat menentukan kapan memulai dan akan menyelesaikan suatu pekerjaan.
Ketiga, lebih irit dalam mengeluarkan uang untuk keperluan ongkos perjalanan dan makan siang, karena semua dikerjakan di rumah.
Keempat dan yang merupakan keuntungan terpenting, yaitu lebih dekat dengan keluarga.
Namun, belum lama ini pasar dan pusat perbelanjaan ramai dipenuhi masyarakat.
adanya kerumunan warga membuat protokol Covid-19 yang harusnya diterapkan jadi terabaikan.
Teranyar dan menjadi hangat di kalangan media sosial adalah penuhnya Pasar Tanah Abang di tengah Pemprov DKI masih menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Begitu pula di pusat perbelanjaan Roxy Mall, Jember, Jawa Timur, yang sempat ramai dengan pengunjung.
Padahal, hingga kini seluruh wilayah di Jawa Timur menetapkan ketentuan menjaga jarak atau physical distancing.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Kasus lainnya terjadi di Mall CBD Ciledug, di tengah Kota Tangerang masih melakukan penerapan PSBB untuk menekan penyebaran Covid-19.
Akhirnya, Pemerintah Kota Tangerang menutup sementara operasional Mall CBD Ciledug.
Padahal jumlah kasus di Indonesia sudah mencapai 20.796 per 22 Mei 2020, dengan 5.057 orang diyatakan sembuh dan 1.326 orang meninggal dunia.
Berdasarkan artikel kolom yang ditulis oleh Sandi Kartasasmita, M.Psi, Psikoterapis, psikolog, dosen tetap Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia masih menganggap Covid-19 adalah hal biasa dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Pola pikir untuk menjaga kesehatan dan berobat yang minim menjadi salah satu penyebabnya.
Sebagian besar masyarakat masih menganggap penyakit ini masih jauh, tidak perlu ditakutkan.
Mereka juga berpikir bahwa ini semua akan berlalu meski belum tahu kapan, memiliki Tuhan yang pasti senantiasa akan melindungi sehingga tidak akan terkena penyakit tersebut.
Kalaupun akhirnya kena, karena itu sudah kehendak Tuhan.
Dalam Psikologi Kesehatan dikenal istilah Health Belief Model (HBM), pendekatan yang dapat memberikan gambaran mengapa seseorang mau atau enggan pergi menemui tenaga kesehatan.
Kondisi yang dapat membuat mau mencari atau tidak mencari adalah "persepsi".
Dalam kondisi penyebaran Covid-19 ini, pada awalnya masyarakat masih banyak yang merasa bahwa penyakit ini masih jauh dan tidak dekat dengan tempat tinggalnya.
Ini disebut dengan perceive susceptibility atau kerentanan apa yang dirasakan/diketahui.
Kemudian ada perceive severity, yakni bahaya atau keparahan penyakit yang dialami.
Masyarakat juga memiliki pemikiran bahwa ini adalah penyakit seperti influenza atau yang dikenal dengan sakit pilek, yang umumnya terjadi di Indonesia.
Selain itu, ada perceive benefit of action, apa manfaat yang akan didapatkan dari tindakan yang dilakukan.
Dalam masa PSBB, di mana harus bekerja, belajar, bahkan beribadah di rumah ternyata tak bisa diikuti oleh sebagian orang.
Saat pemerintah mengumumkan untuk di rumah saja, maka yang dipikirkan adalah:
kalau tidak keluar rumah, tidak bekerja, maka bagaimana dapat uang? Apabila tidak ada uang, bagaimana dapat makan? Kalau tidak makan, maka akan kelaparan.
Jadi, imbauan untuk berdiam di rumah, apabila tidak ditunjang kebijakan lain yang menyertai, akan sulit untuk diikuti oleh masyarakat karena keuntungan yang akan diperoleh tidak terlihat.
Ada pula yang disebut dengan perceive barrier to action, hambatan dari tindakan yang akan dilakukan.
Hambatan-hambatan yang dapat muncul didasari beberapa faktor seperti usia, jenis kelamin, tempat tinggal, penilaian mengenai diri sendiri, apakah sanggup atau tidak sanggup mengatasi penyakit tersebut, ataupun keyakinan bahwa tidak akan terkena penyakit tersebut karena berbagai faktor penguat keyakinan tersebut.
Terakhir adalah cues to action, isyarat untuk melakukan tindakan.
Pada akhirnya tindakan apa yang akan diambil dan dilakukan terhadap penyakit Covid-19?
Apakah akan memeriksakan diri saat gejala muncul?
Adanya instruksi pemerintah dengan cara melakukan social disctancing bila harus keluar rumah, berdiam di rumah, semua adalah pilihan perilaku yang akan diambil.
"Saat keyakinan tidak akan terkena penyakit dan berpikir tidak mungkin terkena, tanpa disadari kita sudah masuk ke dalam kondisi optimistic bias. Kondisi ini adalah kondisi yang meyakini bahwa diri sendiri tidak akan terkena hal-hal yang negatif atau buruk," tulis Sandi.
Oleh karena itu, apabila meninjau kondisi saat ini, maka ada baiknya bila diberikan informasi mengenai keuntungan-keuntungan apa yang akan didapatkan bila melakukan tindakan-tindakan yang dianjurkan pemerintah, dan kerugian apa yang akan diderita apabila tidak menjalankannya.
19 Terdapat beberapa keuntungan dengan berdiam diri di rumah.
Pertama, menjadi salah satu orang yang berjasa untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit ini.
Kedua, waktu kerja yang fleksibel.
Saat bekerja di rumah, tentunya dapat menentukan kapan memulai dan akan menyelesaikan suatu pekerjaan.
Ketiga, lebih irit dalam mengeluarkan uang untuk keperluan ongkos perjalanan dan makan siang, karena semua dikerjakan di rumah.
Keempat dan yang merupakan keuntungan terpenting, yaitu lebih dekat dengan keluarga.
Minggu, 03 Mei 2020
Ace Hasan Harap Tak Ada Mahasiswa yang Drop Out Gara-gara Covid-19
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menyerahkan bantuan dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kementerian Agama kepada mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (22/5/2020).
Dia mengaku prihatin atas dampak virus corona atau Covid-19 terhadap dunia pendidikan.
Menurutnya, kejadian saat pandemi ini mengingatkannya pada peristiwa krisis 1998 silam.
Ace menegaskan dunia pendidikan tidak boleh terhenti akibat Covid-19.
Kampus dinilai harus tetap berjalan walaupun dengan pembelajaran melalui daring.
"Saya tidak ingin mahasiswa ada yang drop out gara-gara Covid 19. Kemajuan peradaban manusia karena pendidikannya. Karena itu tak boleh terhenti akibat pandemi ini," ujar Ace, dalam keterangannya, Jumat (22/5/2020).
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut juga mengatakan dia dan keluarganya berzakat fitrah dan zakat mal melalui Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta.
"Untuk zakat mal saya, selain melalui STF UIN, saya bagikan juga di Dapil saya dan kampung halaman di Pandeglang. Dalam kondisi seperti ini saya ingat ketika '98. Saat itu masa sulit karena krisis," kata dia.
Dalam acara tersebut, hadir juga Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nizar Ali.
Bantuan itu langsung diterima oleh Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Direktur STF UIN Jakarta Amelia Fauziah, serta Dekan Fakultas Kedokteran UIN Jakarta yang juga Ketua Gugus Tugas Penangganan Covid-19 Hari Hendarto.
Ace mengatakan sudah berkomunikasi dengan Plt Sekjen Kemenag Nizar Ali terkait pemberian bantuan.
Ace juga menelepon Direktur STF UIN Jakarta Amelia Lubis untuk membuat surat terkait pengajuan bantuan.
"Saya harus pastikan hari Jumat saya bagikan ini (bantuan). Alhamdulillah hari ini, telah disampaikan bantuan Rp100 juta kepada STF UIN Jakarta. Saya sangat berterima kasih dalam waktu sehari, Pak Sekjen sangat responsif," imbuh Ace.
Sebelumnya, bermitra dengan Kementerian Sosial Ace juga sudah menyalurkan bantuan 200 paket sembako melalui STF UIN Jakarta.
Di sisi lain, Direktur STF UIN Jakarta Amelia Lubis mengatakan saat ini masih banyak mahasiswa UIN Jakarta yang terdampak Covid-19 dan berada di sekitar kampus.
"Sebelumnya ada 1200-an mahasiswa yang terdampak. Dan saat ini masih ada 453 mahasiswa yang tidak pulang, termasuk mahasiswa internasional," kata Amelia.
Dia mengaku prihatin atas dampak virus corona atau Covid-19 terhadap dunia pendidikan.
Menurutnya, kejadian saat pandemi ini mengingatkannya pada peristiwa krisis 1998 silam.
Ace menegaskan dunia pendidikan tidak boleh terhenti akibat Covid-19.
Kampus dinilai harus tetap berjalan walaupun dengan pembelajaran melalui daring.
"Saya tidak ingin mahasiswa ada yang drop out gara-gara Covid 19. Kemajuan peradaban manusia karena pendidikannya. Karena itu tak boleh terhenti akibat pandemi ini," ujar Ace, dalam keterangannya, Jumat (22/5/2020).
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut juga mengatakan dia dan keluarganya berzakat fitrah dan zakat mal melalui Social Trust Fund (STF) UIN Jakarta.
"Untuk zakat mal saya, selain melalui STF UIN, saya bagikan juga di Dapil saya dan kampung halaman di Pandeglang. Dalam kondisi seperti ini saya ingat ketika '98. Saat itu masa sulit karena krisis," kata dia.
Dalam acara tersebut, hadir juga Plt Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nizar Ali.
Bantuan itu langsung diterima oleh Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Direktur STF UIN Jakarta Amelia Fauziah, serta Dekan Fakultas Kedokteran UIN Jakarta yang juga Ketua Gugus Tugas Penangganan Covid-19 Hari Hendarto.
Ace mengatakan sudah berkomunikasi dengan Plt Sekjen Kemenag Nizar Ali terkait pemberian bantuan.
Ace juga menelepon Direktur STF UIN Jakarta Amelia Lubis untuk membuat surat terkait pengajuan bantuan.
"Saya harus pastikan hari Jumat saya bagikan ini (bantuan). Alhamdulillah hari ini, telah disampaikan bantuan Rp100 juta kepada STF UIN Jakarta. Saya sangat berterima kasih dalam waktu sehari, Pak Sekjen sangat responsif," imbuh Ace.
Sebelumnya, bermitra dengan Kementerian Sosial Ace juga sudah menyalurkan bantuan 200 paket sembako melalui STF UIN Jakarta.
Di sisi lain, Direktur STF UIN Jakarta Amelia Lubis mengatakan saat ini masih banyak mahasiswa UIN Jakarta yang terdampak Covid-19 dan berada di sekitar kampus.
"Sebelumnya ada 1200-an mahasiswa yang terdampak. Dan saat ini masih ada 453 mahasiswa yang tidak pulang, termasuk mahasiswa internasional," kata Amelia.
Sabtu, 02 Mei 2020
Indonesia Dinilai Punya Modal Sosial yang Besar Hadapi Virus Corona
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily menilai Indonesia memiliki modal sosial yang sangat besar untuk melawan pandemi virus corona atau Covid-19.
Menurutnya, wabah itu harus dilawan melalui sisi kemanusiaan.
"Masalah Covid-19 ini bukan hanya masalah Indonesia, tetapi juga dunia. Semua sepakat yang harus kita ke depankan dalam konteks penangganan Covid-19 adalah pendekatan kemanusiaan," kata Ace kepada wartawan, Jumat (22/5/2020).
"Covid-19 tidak mengenal negara, suku, agama, kaya, miskin semua berpotensi terkena Covid-19," ucapnya.
Politikus Partai Golkar itu juga menilai masyarakat global juga berpandangan sama tentang tingginya modal sosial yang dimiliki Indonesia.
Hal itu adalah bekal utama yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Dengan modal sosial yang dimiliki Indonesia, Ace optimistus Indonesia dapat segera melewati badai Covid-19.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
"Beberapa hari lalu saya membaca koran. Ada satu hal yang menggembirakan sesungguhnya. Ternyata Indonesia memiliki modal sosial yang cukup tinggi. Menurut Legatum Prosperity Index, pada tahun 2019 lalu, modal sosial Indonesia berada pada urutan kelima setelah negara-negara Skandinavia yang dikenal memiliki tingkat welfare state (kesejahteraan negara), Norwegia, Denmark, Eslandia dan Finlandia," ujarnya.
Adapun modal sosial yang dimaksud adalah menggunakan beberapa tolok ukur seperti sikap saling mempercayai, saling menghormati, saling tolong menolong, solidaritas sosial, dan gotong royong.
Hal serupa terjadi di tahun 2018 lalu, Indonesia pun didaulat menjadi negara paling dermawan oleh Charities Aid Foundation melalui World Giving Index dalam hal pertolongan kepada warga asing, donasi uang dan kesediaan menjadi sukarelawan.
Menurutnya, wabah itu harus dilawan melalui sisi kemanusiaan.
"Masalah Covid-19 ini bukan hanya masalah Indonesia, tetapi juga dunia. Semua sepakat yang harus kita ke depankan dalam konteks penangganan Covid-19 adalah pendekatan kemanusiaan," kata Ace kepada wartawan, Jumat (22/5/2020).
"Covid-19 tidak mengenal negara, suku, agama, kaya, miskin semua berpotensi terkena Covid-19," ucapnya.
Politikus Partai Golkar itu juga menilai masyarakat global juga berpandangan sama tentang tingginya modal sosial yang dimiliki Indonesia.
Hal itu adalah bekal utama yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
Dengan modal sosial yang dimiliki Indonesia, Ace optimistus Indonesia dapat segera melewati badai Covid-19.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
"Beberapa hari lalu saya membaca koran. Ada satu hal yang menggembirakan sesungguhnya. Ternyata Indonesia memiliki modal sosial yang cukup tinggi. Menurut Legatum Prosperity Index, pada tahun 2019 lalu, modal sosial Indonesia berada pada urutan kelima setelah negara-negara Skandinavia yang dikenal memiliki tingkat welfare state (kesejahteraan negara), Norwegia, Denmark, Eslandia dan Finlandia," ujarnya.
Adapun modal sosial yang dimaksud adalah menggunakan beberapa tolok ukur seperti sikap saling mempercayai, saling menghormati, saling tolong menolong, solidaritas sosial, dan gotong royong.
Hal serupa terjadi di tahun 2018 lalu, Indonesia pun didaulat menjadi negara paling dermawan oleh Charities Aid Foundation melalui World Giving Index dalam hal pertolongan kepada warga asing, donasi uang dan kesediaan menjadi sukarelawan.
Jumat, 01 Mei 2020
Viral Video Keluarga Jenazah PDP Corona Bayar Rp 3 Juta untuk Pemulasaran, Ini Tanggapan RS
Beredar video yang memperlihatkan beberapa orang berdebat dengan petugas Rumah Sakit Umum Daerah Wahidin Sudirohusodo Mojokerto.
Video tersebut sempat viral di media sosial sejak Kamis (21/5/2020).
Potongan video tersebut tersebar di beberapa media sosial seperti Instagram dan Facebook.
Masyarakat juga ramai membagikan video itu di aplikasi pesan instan, WhatsApp.
Berdasarkan percakapan yang terekam dalam video itu, keluarga pasien mempertanyakan uang sebesar Rp 3 juta yang diminta petugas rumah sakit.
Petugas menyebut uang itu akan digunakan untuk biaya pemulasaraan jenazah pasien yang meninggal.
Keluarga itu terlihat beberapa kali mengutarakan keluhannya kepada petugas.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Mereka mempertanyakan uang itu.
Tapi, mereka juga menyerahkan uang Rp 3 juta itu untuk mengurus jenazah.
Pihak keluarga memaksa petugas memberikan kwitansi sebagai tanda bukti pembayaran uang tersebut.
Salah satu keluarga korban yang merekam video itu memberi tahu lokasi rumah sakit tersebut.
"Rumah Sakit dr Wahidin Sudirohusodo. Bu Wali (Wali Kota Mojokerto) tolong diperhatikan," kata salah satu keluarga pasien dalam rekaman itu.
Berdasarkan penelusuran Kompas.com, pihak yang berdebat dengan petugas rumah sakit itu merupakan keluarga dari salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal pada Selasa (19/5/2020).
Pasien berinisial JSH itu berasal dari Kecamatan Gedek, Kabupaten Mojokerto.
PDP yang menjalani perawatan di rumah sakit milik Pemkot Mojokerto itu meninggal pada usia 60 tahun.
Direktur RSUD dr Wahidin Sudirohusodo Sugeng Mulyadi membenarkan peristiwa dalam video itu terjadi di rumah sakit yang dipimpinnya.
Karena Salah Paham
Pihak yang memprotes permintaan uang itu merupakan keluarga dari PDP yang meninggal RSUD Wahidin Sudirohusodo.
Menurut Sugeng, insiden itu terjadi karena kesalahpahaman antara keluarga pasien dan petugas.
Sugeng tak memungkiri terjadi kesalahpahaman di antara petugas yang menangani jenazah PDP tersbeut.
Pasien (Covid-19) nonreaktif, tetapi kondisinya memang ada pneumonia. Pada tanggal 19 Mei, kondisi memburuk terus meninggal. Rencana mau dilakukan uji swab tapi keburu meninggal," kata Sugeng saat dihubungi Kompas.com, Jumat (22/5/2020).
Masalah itu muncul karena petugas rumah sakit yang menangani jenazah pasien itu memakai aturan lama.
Padahal, dalam aturan terbaru biaya pemulasaraan jenazah PDP bisa diklaim.
Dalam aturan lama, biaya jenazah pasien yang belum terkonfirmasi Covid-19 tidak ditanggung negara.
Biaya Rp 3 juta itu digunakan untuk pengadaan peti jenazah, plastik, dan kebutuhan lainnya.
Selain kesalahpahaman petugas, pertengkaran itu juga terjadi karena pihak keluarga tak kuasa mengontrol emosi.
"Masalah yang ramai itu adalah masalah uang. Sesuai SE Nomor 6, (biaya pemulasaraan jenazah) untuk pasien PDP bisa diklaim. Nah, personelnya (petugas) tidak paham, jadi masih menerapkan SE yang lama," kata Sugeng.
Menurut Sugeng, uang sebesar Rp 3 juta itu hanya sebagai jaminan.
Keesokan harinya, petugas rumah sakit itu berkonsultasi dengan atasannya.
Atasannya pun membenarkan biaya pemulasaraan jenazah PDP ditanggung negara.
Namun, petugas itu tak langsung mengembalikan uang kepada keluarga pasien.
Petugas itu menunggu keluarga pasien datang ke rumah sakit.
"Pada pagi harinya, dia (petugas) konfirmasi kepada atasannya, tapi belum sempat mengembalikan uangnya.
Kesalahpahaman lagi, petugasnya menunggu keluarga datang. Karena saling menunggu, akhirnya meletus itu," ujar Sugeng.
Video tersebut sempat viral di media sosial sejak Kamis (21/5/2020).
Potongan video tersebut tersebar di beberapa media sosial seperti Instagram dan Facebook.
Masyarakat juga ramai membagikan video itu di aplikasi pesan instan, WhatsApp.
Berdasarkan percakapan yang terekam dalam video itu, keluarga pasien mempertanyakan uang sebesar Rp 3 juta yang diminta petugas rumah sakit.
Petugas menyebut uang itu akan digunakan untuk biaya pemulasaraan jenazah pasien yang meninggal.
Keluarga itu terlihat beberapa kali mengutarakan keluhannya kepada petugas.
Baca juga : Cara Mencegah Corona
Mereka mempertanyakan uang itu.
Tapi, mereka juga menyerahkan uang Rp 3 juta itu untuk mengurus jenazah.
Pihak keluarga memaksa petugas memberikan kwitansi sebagai tanda bukti pembayaran uang tersebut.
Salah satu keluarga korban yang merekam video itu memberi tahu lokasi rumah sakit tersebut.
"Rumah Sakit dr Wahidin Sudirohusodo. Bu Wali (Wali Kota Mojokerto) tolong diperhatikan," kata salah satu keluarga pasien dalam rekaman itu.
Berdasarkan penelusuran Kompas.com, pihak yang berdebat dengan petugas rumah sakit itu merupakan keluarga dari salah satu pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal pada Selasa (19/5/2020).
Pasien berinisial JSH itu berasal dari Kecamatan Gedek, Kabupaten Mojokerto.
PDP yang menjalani perawatan di rumah sakit milik Pemkot Mojokerto itu meninggal pada usia 60 tahun.
Direktur RSUD dr Wahidin Sudirohusodo Sugeng Mulyadi membenarkan peristiwa dalam video itu terjadi di rumah sakit yang dipimpinnya.
Karena Salah Paham
Pihak yang memprotes permintaan uang itu merupakan keluarga dari PDP yang meninggal RSUD Wahidin Sudirohusodo.
Menurut Sugeng, insiden itu terjadi karena kesalahpahaman antara keluarga pasien dan petugas.
Sugeng tak memungkiri terjadi kesalahpahaman di antara petugas yang menangani jenazah PDP tersbeut.
Pasien (Covid-19) nonreaktif, tetapi kondisinya memang ada pneumonia. Pada tanggal 19 Mei, kondisi memburuk terus meninggal. Rencana mau dilakukan uji swab tapi keburu meninggal," kata Sugeng saat dihubungi Kompas.com, Jumat (22/5/2020).
Masalah itu muncul karena petugas rumah sakit yang menangani jenazah pasien itu memakai aturan lama.
Padahal, dalam aturan terbaru biaya pemulasaraan jenazah PDP bisa diklaim.
Dalam aturan lama, biaya jenazah pasien yang belum terkonfirmasi Covid-19 tidak ditanggung negara.
Biaya Rp 3 juta itu digunakan untuk pengadaan peti jenazah, plastik, dan kebutuhan lainnya.
Selain kesalahpahaman petugas, pertengkaran itu juga terjadi karena pihak keluarga tak kuasa mengontrol emosi.
"Masalah yang ramai itu adalah masalah uang. Sesuai SE Nomor 6, (biaya pemulasaraan jenazah) untuk pasien PDP bisa diklaim. Nah, personelnya (petugas) tidak paham, jadi masih menerapkan SE yang lama," kata Sugeng.
Menurut Sugeng, uang sebesar Rp 3 juta itu hanya sebagai jaminan.
Keesokan harinya, petugas rumah sakit itu berkonsultasi dengan atasannya.
Atasannya pun membenarkan biaya pemulasaraan jenazah PDP ditanggung negara.
Namun, petugas itu tak langsung mengembalikan uang kepada keluarga pasien.
Petugas itu menunggu keluarga pasien datang ke rumah sakit.
"Pada pagi harinya, dia (petugas) konfirmasi kepada atasannya, tapi belum sempat mengembalikan uangnya.
Kesalahpahaman lagi, petugasnya menunggu keluarga datang. Karena saling menunggu, akhirnya meletus itu," ujar Sugeng.
Langganan:
Postingan (Atom)











